Menebar Edukasi Menuai Status Gizi

Pengantar

Kemajuan suatu bangsa diukur dengan  salah satu parameter yang disebut Indeks Pembangunan Manusia ( IPM ) atau bahasa Kerennya  Human Development Index ( HDI ) .

IPM atau HDI terdiri dari tiga unsur yaitu : Pendidikan, Kesehatan, dan Pertumbuhan Ekonomi. Lalu dimanakah posisi negara kita tercinta Indonesia ?

United Nation Development Program ( UNDP ) sebagai salah satu badan di bawah PBB telah mengeluarkan data tentang urutan HDI / IPM untuk negara negara di dunia , untuk tahun 2007 Indonesia menduduki rangking 108 dari 177 negara. Lalu tahun 2009 berada di posisi 111 dari 182 negara, posisi ini masih jauh di bawah negara tetangga  Asean lainnya seperti Singapura, Malaysia, Brunai bahkan Vietnam aduh… kasihan.deh…Tetapi itu semua tak mematahkan semangat kita semua sebagai warga negara dengan berbagai latar belakang profesi dan fungsi untuk terus meningkatkan prestasi dan posisi negara kita di mata dunia..

Sebagai insan profesi kesehatan dengan bermacam macam profesi sebenarnya banyak yang dapat kita lakukan guna memberikan kontribusi untuk meraih semua itu. Janganlah kita berpikir yang muluk muluk atau complecated , lakukanlah terobosan yang sederhana tetapi terasa manfaatnya di lingkungan kerja kita atau dengan kata lain wujudkan suatu Inovasi…

Fenomena seputar ibu hamil

Angka Kematian Ibu ( AKI ) merupakan  satu dari sekian banyak parameter untuk menentukan kemajuan di bidang kesehatan . Badan Pusat Statistik tahun 2007 mencatat AKI sebesar 34 % dari 1000 kelahiran. Tahun 2009 berkat kerja keras semua elemen kesehatan AKI dapat ditekan dari 248 menjadi 206 kelahiran.

Ibu hamil atau yang lebih akrab disapa bumil adalah salah satu golongan rawan kesehatan yang menjadi salah satu  prioritas di bidang kesehatan, apalagi jika dia dimasukkan dalam golongan resiko tinggi seperti :

  • Anemia dengan Hb < 10
  • Kurang Energi Kronis (KEK) dengan Lingkar lengan atas ( LILA ) < 23,5 Cm
  • Kehamilan ke 3 dan seterusnya
  • Usia Lebih dari 35 Th

Secara teoretis bumil dengan resiko tinggi seperti di atas cendrung melahirkan bayi dengan Berat bayi lahir rendah ( BBLR ) yaitu < 2,5 Kg, terjadi perdarahan yang mengancam jiwa dan kejadian gawat lainnya yang kedepan akan memberikan efek domino yang panjang..antara lain Balita gizi buruk, sampai kematian ibu dan bayi.

Di luar fenomena di atas ada hal yang tak kalah diperhatikan yaitu bumil dengan kaki bengkak, hipertensi, mual mual, muntah tidak nafsu makan dll. O..la la begitu beratnya kau ibu mengandung selama sembilan bulan untuk kelahiran si jabang bayi demi sebuah generasi…

Lepas dari masalah di atas , beberapa ibu hamil mengalami perilaku atau pola makan yang cenderung merugikan keadaan gizi ibu hamil masalah itu antara lain tiba tiba saja mual bila melihat nasi apalagi menyantapnya, pusing bila mencium aroma ikan laut atau daging padahal semua itu tidak terjadi pada waktu sebelum hamil. Atau yang paling ekstrim sama sekali tidak suka sayur dan buah atau tiba tiba hilang selera makan jika melihat hidangan tersaji di meja makan dalam porsi yang sesuai.

Family Gathering bumil suatu  inovasi

Dalam ilmu Sosiologi ada satu nilai yang menyatakan bahwa diskusi atau sharing dalam satu komunitas / in group dapat memberikan hasil yang maksimal dalam menyelesaikan suatu masalah diantara anggotanya. Beranjak dari dasar pijakan teori itu Puskesmas Gamping I melalui program gizi dan program terpadu lainnya membuat kegiatan / program inovasi untuk mengatasi masalah di atas yang kelak diberi label Family gathering bumil .

Program ini merupakan program terpadu yang melibatkan program / petugas diantaranya : Programer gizi ( Nutrisionis) sebagai leader. Programer KIA ( Bidan ), Psikolog bahkan mahasiswa praktek sekalipun. Mekanisme jalannya kegiatan dapat digambarkan sebagai berikut :

  1. Mencatat / listing semua ibu hamil (Bumil) yang berisiko tinggi atas kehamilannya melalui klinik KIA atau laporan kader kesehatan.
  2. Klinik KIA merujuk Bumil risti tersebut ke Klinik Konsultasi Gizi ( Nutrisionis )
  3. Pada konseling gizi akan dikaji data data Risti antara lain : LILA, Kadar Hb, Pola makan, riwayat kehamilan dan lain lain.
  4. Nutrisionis menyimpulkan Status gizi bumil tersebut sekaligus memberikan konseling untuk alternatif penanggulangannya.
  5. Psikolog akan berperan dalam menangani aspek psikis dan membangkitkan motivasi positif.
  6. Menyarankan kunjungan selanjutnya pada bumil risti baik ke klinik KIA maupun Klinik konsultasi Gizi.
  7. Menilai keberhasilan / Status gizi pada kunjungan selanjutnya pada bumil tersebut.
  8. Mengumpulkan / mengadakan pertemuan dengan komunitas bumil risti dengan bimbingan petugas kesehatan yang terlibat.

Pertemuan diisi oleh ibu hamil yang berhasil meningkat Status Gizi nya seperti Kenaikan kadar Hb, peningkatan LILA, meningkatnya nafsu makan dll . Dengan kata lain ibu tersebut menjadi nara sumber dalam diskusi. Supaya tidak jenuh pertemuan diselingi juga dengan senam ibu hamil dengan bimbingan petugas serta informasi kesehatan yang lain seperti Manfaat ASI, Makanan sehat Bumil dll.

Manfaat yang dapat dipetik dalam kegiatan ini adalah timbulnya rasa memiliki dan persaudaraan diantara ibu ibu hamil tersebut ( Sense of belonging ) karena pertemuan itu mengandung makna empaty selain simpati di antara mereka dengan kata lain dari, oleh, untuk ibu hamil. Pertemuan akan berlanjut secara berkesinambungan melalui kesepakatan ibu ibu, Puskesmas siap memfasilitasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *