Bekal Anak Sekolah

Pendahuluan

Ma …, minta uang dong …, untuk jajan di sekolah nanti, kalau tak diberi laper deh….capek dehh…”. Dialog seperti ini mungkin terjadi pada 80 % antara anak dan ibu pada pagi hari menjelang anak anak kita berangkat ke sekolah (dalam hal ini anak SD / MI).

Permohonan sang anak mungkin saja wajar, sebab pada jam pelajaran terutama sekitar jam.10.00 pagi persediaan Energi dalam tubuh seseorang sudah mulai berkurang, apalagi jika seseorang tidak sarapan pagi untuk memulai aktivitas seharian. Kejadian ini ditandai dengan badan lemas, keringat dingin, mata berkunang kunang , akibat selanjutnya dapat terjadi pingsan (semaput) karena persediaan glukosa darah daalam tubuh semakin drop (Hypoglicemy) , fenomena serupa banyak dijumpai pada kegiatan upacara yang melibatkan banyak orang. Mengantisipasi kejadian ini kita harus ingat bahwa sarapan pagi harus dilakukan untuk menunjang aktivitas sehari kedepan , oleh karena itulah perilaku ini masuk dalam salah satu poin gaya hidup sehat menuju gizi seimbang

Sarapan pagi biasanya hanya untuk mencukupi kebutuhan Energi seseorang menjelang tengah hari , akan bijaksana jika diantara jeda sarapan pagi dan makan siang tubuh di suplai dengan makanan ringan / snack / kudapan satu porsi dengan pelengkap segelas air minum. Konteks inilah yang juga diperlukan anak sekolah pada jam jam kritis ( sekitar jam. 10.00 pagi ) agar anak tetap Survive mengikuti pelajaran dengan konsentrasi penuh. Pada lingkup birokrasi saat ini sudah tepat penerapan nya jika ada suatu acara ( rapat ) yang berlangsung sampai jam. 12.00 panitia menyediakan snack dan makan siang.

Fakta tentang makanan jajanan yang beredar bebas di pasaran

Penularan infeksi ke-cacingan pada anak dapat disebabkan oleh perilaku anak yang jajan di sembarang tempat.

Kebersihan tempat jajan yang tidak dapat dikontrol oleh pihak sekolah dan tidak terlindung , dapat tercemar oleh debu dan kotoran yang mengandung telur cacing. Selain melalui tangan transmisi penularan telur cacing dapat juga melalui makanan dan minuman , terutama makanan jajanan yang tidak dikemas dan ditutup rapat.
Telur cacing yang ada di tanah / debu akan sampai pada makanan tersebut jika diterbangkan oleh angin atau dapat juga melalui lalat yang sebelumnya hnggap di tanah atau selokan sehingga kaki kakinya membawa telur cacing tersebut. Penyakit lain yang sering terjadi pada pola penularan di atas adalah diare / mencret / mabyur…

Pada medio Nopember 2008 di daerah Solo Jawa tengah dikejutkn oleh pemberitaan tentang temuan di suatu industri rumah tangga ( Home industry ) yang memanfaatkan makanan kadaluwarsa untuk didaur ulang menjadi makanan jajanan yang lain.

Pola yang digunakan adalah makanan yang sudah kadaluwarsa diproses sedemikian rupa ( dipanggang , digoreng , dioven ulang ) untuk menjadi bentuk dan rupa makanan jajanan lain. Hal ini sangat berbahaya karena bagaimanapun pola dan cara pengolahan yang dilakukan terhadap makanan kadaluwarsa itu tidak mengurangi resiko keracunan bahkan ancaman kematian bagi konsumen.
Satu contoh racun Aflatoxyn yang dihasilkan oleh jamur Aspergillus Flavus dapat membahayakan atau meracuni lever / hati , racun ini umum terdapat pada makanan yang berbahan kacang tanah dan hasil olahnya yang tidak diolah secara sehat dan benar.

dr.Ikeu Tanzina dari Dep Dik Nas Jakarta mengungkapkan bahwa 45 % jajanan anak sekolah tercemar dan cenderung menggunakan bahan pengawet, pewarna, aroma , penyedap & pemanis sintetis sehingga mengancam kesehatan anak

Peristiwa di bulan Juni 2004 seorang murid kelas 4 SD di jakarta keracunan minuman dalam kemasan yang dijajakan oleh seorang penjaja produk makanan dan minuman tertentu. 17 anak lainnya dirawat di RS fatmawati Jakarta. 11 pelajar SD Negeri 10 Cipinang Melayu Jakarta Timur dirawat di Rumah Sakit setelah makan permen coklat yang dijual murah seorang pedagang di sekolahnya.

Dari fakta dan peristiwa yang terungkap di atas jelas bahwa ancaman serius senantiasa mengancam dan mengintai anak anak kita manakala mereka jajan sembarangan dan mengkonsumsi makanan jajanan yang tidk sehat.

Bagaimana kita menyikapi hal tersebut ?

1. Institusi / Masyarakat Sekolah

Menghidupkan dan mengintensifkan atau merevitalisasi kembali keberadaan dan fungsi warung Sekolah adalah suatu pilihan yang cerdas dan bijaksana sebagai salah satu alternatif menghindari peristiwa di atas. Kegiatan ini sangat relevan dengan momen saat ini yang sedang hangat hangatnya di berbagai Sekolah me launching ”warung (sekolah) kejujuran ”.
Seperti diketahui Warung Sekolah merupakan sarana / kantin yang menyediakan makanan jajanan bagi anak didik di sekolah , makanan dan minuman yang dijajakan di sana tentu saja memenuhi standar kesehatan karena di awasi oleh guru penanggung jawab dan petugas terkait yang lain..
Makanan dan minuman yang dijajakan hendaknya berasal dari bahan pangan setempat sehingga dapat menunjang industri makanan rumah tangga setempat.dan menciptakan kebiasaan makan (Food habit) yang baik.

Berbagai minuman tradisional yang nyata sehat dan bergizi dapat disediakan di sana seperti :

  • Wedang jahe – Bandrek
  • Wedang jeruk – Bajigur
  • Jus jeruk
  • Air sari kacang ijo
  • Es buah
  • Es teh dan wedang teh
  • Aneka jus buah

Untuk pilihan makanan jajanan dapat berupa aneka ”jajanan pasar” yang bebas zat pengawet serta bahan tambahan makanan (BTM) antara lain :

  • Cemplon
  • Bengawan solo
  • Kacang godog
  • Pisang godog
  • Bakwan jagung
  • Tahu susur
  • Nogosari
  • Mendoan
  • Kacang bawang
  • Pisang goreng
  • Tahu, tempe bacem
  • Cap jae
  • Peyek dele
  • Apem , Cucur
  • Ongol ongol
  • Peyek kc.tanah
  • Getuk
  • Ketimus
  • Onde onde
  • Bubur Kc.ijo
  • Arem arem dll

Begitu banyak ragam pilihan aneka makanan jajanan nusantara seperti contoh di atas , mungkin bukan menjadi alasan pihak sekolah kesulitan dalam meyediakan jajanan yang sehat di Sekolahnya. Yang jelas menghindari seminimal mungkin makanan industri pabrikan adalah suatu jawaban menjaga eksistensi keberadaan warung sekolah. Dengan kata lain bola sudah ada di tangan kita , mau kita apakan ???

2. Keluarga , khususnya para ibu.

Untuk menyalurkan kreatifitas para ibu di bidang kuliner khususnya yang hobi masak aneka makanan jajanan , ada baiknya menerapkan hal itu untuk bekal anak kita ke sekolah. Sekaligus melatih diri tidak hanya pandai membeli tapi juga dapat membuat..

Dengan membuat sendiri makanan jajanan untuk bekal sekolah anak kita maka ada perasaan puas dan menimbulkan rasa bangga anak terhadap orang tuanya . Kesehatan dan keamanan makananpun terjamin sebab semua kita yang mempersiapkan. Para praktisi gizi sudah menganjurkan dan mengisyaratkan bahwa makanan jajanan hendaknya mengandung Energi = 300 Kalori dan Protein = 5 gr per porsi nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *