Masalah Psikologis Pada Pasien Diabetes

Diabetes melitus, untuk selanjutnya dalam tulisan ini disebut diabetes, adalah penyakit kronis yang ditandai dengan ketidakmampuan tubuh dalam memproduksi insulin yang mencukupi. Insulin adalah hormon yang diskresikan oleh pankreas untuk mengontrol glukosa dalam sel dan glukosa metabolisme. Jika ada disfungsi insulin, maka glukosa dalam darah menjadi berlebih dan ikut terbuang bersama urin (Taylor, 2006). Peningkatan kadar gula darah yang dialami penderita diabetes melitus akan berbeda pada orang normal. Kadar gula darah orang normal tidak melebihi 100 mg/dl dan dua jam setelah makan tidak melebihi 140 mg/dl sedangkan pada penderita diabetes, dua jam setelah makan kadar glukosa darah lebih dari 200 mg/dl (Tjokroprawiro, 2004).

Selama ini banyak orang memandang diabetes dari sisi medis saja. Lalu, bagaimana dengan sisi psikologisnya? Artikel ini akan mengupas aspek apa saja yang terkandung dalam diabetes melitus berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

Sebagaimana penyakit kronis lainnya, pengelolaan diabetes cenderung kompleks. Dikatakan kompleks karena harus diikuti dalam jangka waktu yang panjang, membutuhkan perubahan gaya hidup, dan dirancang untuk mencegah komplikasi daripada mengobati penyakit (Sarafino, 1998; Cox & Gonder-Frederick, 1992; Taylor, 2006). Literatur-literatur terkini memandang diabetes sebagai suatu proses regulasi diri karena pasien perlu meregulasi proses metabolik, seperti memonitor dan ‘menyesuaikan’ kadar glukosa darah (Gonder-Frederick & Cox; Wing, dkk., dalam Cox & Gonder-Frederick, 1992). Ketika pasien mengikuti petunjuk dokter, maka mereka dihadapkan dengan kondisi psikologis mereka sendiri yang tidak mudah. Pasien dituntut untuk mengikuti petunjuk dalam manajemen diabetes tersebut, sekaligus juga menyadari bahwa munculnya komplikasi akibat diabetes hampir tidak mungkin dihindari.

Tidak dipungkiri bahwa sejak pemberian diagnosis oleh dokter hingga perawatan atau hari-hari bersama diabetes mengandung muatan psikologis. Hasil penelitian yang dilakukan Hasanat (2008) menunjukkan mulai dari awal diagnosis pasien memunculkan reaksi yang beragam. Reaksi tersebut antara lain perasaan takut, shock, merasa tidak percaya diri, sulit menerima kenyataan, kaget, sedih. Perasaan negatif ini muncul, karena biasanya segera setelah pasien didiagnosis penyakit kronis (dalam hal ini diabetes) akan terjadi keadaan krisis, yang ditandai dengan ketidakseimbangan fisik, sosial, maupun psikologis (Moos, dalam Taylor, 2006). Walau demikian, tidak semua pasien yang didiagnosis diabetes mengalami keadaan krisis. Pasien tersebut segera dapat beradaptasi dengan kondisi penyakitnya. Sebagai contoh, pasien tetap tenang, tidak merasa gelisah, tidak shock, tidak ada perasaan ’tidak enak’, ”cuek”, mampu menerima dan menyadari bahwa dirinya terkena diabetes, dan memandang bahwa banyak orang yang memiliki nasib yang sama.

Seperti yang telah diketahui, salah satu penyebab diabetes dikarenakan faktor keturunan. Tidak semua orang beruntung tidak mendapat ’warisan’ penyakit diabetes. Bagi mereka yang berasal dari keluarga yang sebagian besar menderita diabetes, setelah diagnosis tidak mengalami perasaan negatif. Mereka menyadari bahwa sewaktu-waktu akan terkena penyakit itu. Sikap ”cuek” dapat mempunyai dua makna. Pertama, ”cuek” sebagai mekanisme pertahanan penyangkalan atau denial. Taylor (2006) mengatakan bahwa denial merupakan salah satu respon emosi, sebagai mekanisme pertahanan yang dilakukan pasien untuk menghindari implikasi penyakit. Pasien akan berperilaku seakan-akan penyakit yang dialami bukanlah penyakit yang berat. Dengan demikian, sikap tersebut mampu mengurangi atau menghindari munculnya perasaan negatif. Kedua, sikap ”cuek” dapat pula sebagai bentuk coping. Coping merupakan suatu proses untuk mengelola tuntutan dari luar maupn dari dalam diri individu, yang dianggap sebagai beban atau melebihi kapasitas orang tersebut (Taylor, 2006).

Empat komponen dalam pengelolaan diabetes adalah pengobatan medis, diet, olahraga, dan monitoring kadar glukosa dalam darah (Cox-Gonder-Frederick, 1992). Hasanat (2008) menemukan selama pengelolaan penyakit, pasien mengalami shock, tidak nyaman saat menjalani pengobatan, takut pada saat awal harus diet. Hal ini sejalan dengan penelitian Kartika (2008) yang menyebutkan keadaan di atas sebagai reaksi yang timbul akibat perubahan pola hidup, terutama perubahan pola makan. Selain itu, pasien mempunyai kesulitan dalam menjalankan diet, yaitu sulit mengendalikan diri, mengontrol keinginan, mengatur 3J (jenis, jumlah, dan jadwal) makan, dan bosan, jenuh. Pada umumnya, bagi pasien yang mengetahui dan sadar tentang masalah diet, namun merasa kesulitan untuk kontrol diri dapat dikatakan memiliki self control rendah. Self control ini merupakan salah satu kunci yang terkait dengan diet dalam pengelolaan diabetes. Peyrot, McMurry, & Krueger (dalam Taylor, 2006) mengatakan bahwa keterampilan kontrol diri yang baik akan mengakibatkan kontrol terhadap kadar gula darah yang baik pula.

Kehidupan sehari-hari tidak terlepas dari keadaan emosional. Kirkley (dalam Fisher, dkk., 1982) menemukan bahwa perubahan pola hidup yang harus dijalani pasien diabetes dapat menimbulkan emosi negatif, serta konflik yang terjadi dalam diri pasien. Selanjutnya Kirkley menyatakan bahwa munculnya emosi negatif berupa marah, rasa bersalah, cemas, dan sedih dapat menyebabkan pasien mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang banyak atau justru mengkonsumsi jenis makanan yang tidak dianjurkan. Kondisi ini apabila tidak ditangani secara serius akan mempengaruhi proses penyembuhan dan dapat menghambat aktivitas kehidupan sehari-hari yang selanjutnya berdampak negatif pada harga diri, semangat juang dan kualitas hidup. Selain itu, stres dapat merusak kontrol kadar gula dalam darah. Lebih lanjut, ketika seseorang mengalami stres, kelenjar adrenal melepas epinephrine dan kortisol ke dalam pembuluh darah. Epinephrine menyebabkan produksi insulin oleh pankreas turun , kortisol menyebabkan produksi glukosa oleh lever meningkat dan jaringan tubuh menurunkan penggunaan glukosa. Reaksi biokimia terhadap stres tersebutlah yang merusak pengaturan glukosa pada diabetes (Sarafino, 1998).

Dari uraian di muka tampak bahwa pengelolaan diabetes bukanlah suatu hal yang mudah. Mengingat pula bahwasannya diabetes disandang seumur hidup. Walau demikian, pasien dapat hidup berdampingan dengan diabetes. Penelitian yang dilakukan Ningrum (2008) menunjukkan kemauan yang kuat dan kerja keras pasien dalam pengelolaan diabetes mampu mempertahankan keadaan pada kondisi diabetes terkontrol. Hasanat (2008) menemukan bahwa bersyukur atas kondisi sakit, memotivasi diri untuk sembuh, aktif dalam kegiatan yang diselenggarakan perkumpulan pasien diabetes (PERSADIA), perasaan senasib, kesadaran diri untuk menerima kondisi diri, serta dukungan sosial yang diperoleh dari keluarga, dokter maupun PERSADIA dapat membuat hari-hari mereka menjadi lebih berkualitas.

Pada umumnya, pasien terbantu dengan kegiatan yang dilakukan PERSADIA, seperti senam dan sarasehan. Mereka yang antusias mengikuti kegiatan yang ada merasa gembira berada di antara teman-temannya. Hal ini menunjukkan adanya dukungan sosial. Dukungan sosial diperlukan dalam membantu pasien untuk bertahan mengelola penyakitnya. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial akan dapat mempercepat seseorang untuk sembuh dari sakitnya ( Taylor, 2006). Persepsi dukungan sosial yang diterima pasien sejalan dengan penerimaan atas kondisi sakitnya. Dengan demikian, persepsi dukungan sosial pasien tersebut mampu mencegah pasien terpapar dari depresi akibat diabetes (Dewi, 2011).

Keluarga mempunyai peranan besar dalam pengelolaan diabetes. Dukungan yang diberikan keluarga terdekat mampu membuat pasien dapat bertahan dengan pengelolaan diabetes yang dijalaninya. Selain itu, dukungan sosial yang diberikan keluarga mampu menurunkan angka kecemasan pasien (Widyastuti, 2008). Dukungan yang dapat diberikan keluarga, yaitu sebagai motivator, memberi support, ’membesarkan hati’ bahwa pasien bukan satu-satunya orang yang menyandang diabetes. Selain itu, keluarga dapat berperan untuk mengingatkan pelaksanaan diet dan konsumsi obat, kontrol rutin, serta memberikan informasi tambahan seandainya mereka memiliki pengetahuan seputar diabetes.

Pada akhirnya, keberhasilan pengelolaan diabetes tidak terlepas dari keterlibatan langsung pasien dalam pengelolaan diabetes yang didukung oleh peranan keluarga, dokter, dan atau edukator diabetes.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *