Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Remaja

Salah satu masalah kesehatan yang dihadapi Indonesia saat ini adalah peningkatan kasus Penyakit tidak menular (PTM). Meningkatnya PTM tidak saja berdampak pada meningkatnya morbiditas, mortalitas, dan disabilitas di masyarakat, melainkan juga berdampak pada meningkatnya beban ekonomi baik di tingkat individu maupun di tingkat negara pada skala nasional. Literatur terkini mengungkapkan, kompleksitas penyebab masalah PTM ada dua kelompok besar faktor risiko penyakit tidak menular.

Pertama, faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan, yaitu faktor usia. Kedua, penyakit metabolik lain pada usia dewasa. Anak-anak yang dilahirkan dengan gangguan pertumbuhan mempunyai risiko lebih besar untuk mengalami gangguan metabolik, terutama gangguan metabolik lemak, protein, dan karbohidrat yang akan meningkatkan risiko PTM di usia dewasa. Anak yang dilahirkan normal dan tumbuh baik pada masa kanak-kanak, akibat faktor gaya hidup yang tidak sehat, seperti makan tidak seimbang dan aktivitas rendah akan meningkat faktor risikonya terhadap PTM.

Memang tidak bisa disangkal, dewasa ini masalah kesehatan yang dialami oleh remaja sangat kompleks. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengelompokkannya menjadi 8 jenis, yakni masalah kesehatan reproduksi dan seksual, HIV dan AIDS, zat adiktif (merokok, NAPZA, alkohol), gizi, kekerasan dan cedera, kesehatan jiwa, sanitasi dan kebersihan individual, serta PTM. Di antara beragam jenis PTM, ada 4 jenis PTM yang dikategorikan sebagai PTM utama, karena menjadi penyebab kematian terbanyak di Indonesia. Keempatnya adalah penyakit kardiovaskular, kanker, diabetes, dan penyakit pernapasan kronis. Keempat penyakit ini menjadi pembunuh tertinggi, di mana sebanyak 60% kematian disebabkan 4 penyakit ini.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 mencatat sebesar 2,5% pasien stroke sudah menderita stroke sejak usia 18-24 tahun. Selain itu, PTM yang dijumpai pada anak usia sekolah dan remaja adalah kanker sebesar 0,6%, asma sebesar 5%, dan obesitas atau kegemukan sebanyak 10%. “Dulu zaman tahun 90-an yang kena diabetes melitus (kencing manis) pasti usia 40 tahun ke atas, hipertensi 40 tahun ke atas. Sekarang anak remaja kita sudah ada yang hipertensi dan diabetes melitus,” ungkap Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes, dr. Eni Gustina, MPH,. Pola Hidup Tidak Sehat Eni mengungkapkan, penyebab utama terjadinya PTM pada remaja adalah pola hidup yang tidak sehat. Di antaranya konsumsi makanan yang tidak seimbang, tidak beraktivitas fisik, merokok, dan mengonsumsi alkohol. Pola hidup tersebut berdampak pada kemungkinan timbulnya penyakit jantung, hipertensi, diabetes, dan stroke. Jika remaja tidak pernah melakukan aktivitas fisik, sementara kalori yang masuk tubuh banyak, otomatis kalori akan disimpan dan mereka akan terkena obesitas atau kegemukan. Dalam kondisi ini PTM yang paling dekat dapat terkena adalah diabetes melitus. “Karena kalau makan gula, ngga hanya gula ya, roti, mi, itu kan jadi gula dan akan disimpan dalam tubuh.

Jika Penyakit Tidak Menular Mulai Intai Remaja Usia anak-anak dan remaja adalah usia yang identik dengan keceriaan, dinamisme, serta perkembangan baik segi fisik dan mental. Namun, saat ini kita sering mendengar banyak orang di usia muda yang menderita penyakit yang dahulu dikaitkan dan identik dengan usia lanjut, yang termasuk dalam Penyakit Tidak Menular (PTM). Stroke sebagai contohnya. Penyakit ini sering dikaitkan dengan penyakit orang tua, tetapi kenyataanya penyakit tersebut bisa menyerang seseorang di usia muda. Sejalan dengan hal ini para pakar mengatakan penyakit kronis tersebut dapat disebabkan oleh banyak faktor penyebab, di antaranya adalah diet atau pola makan yang buruk/ tidak sehat, pengaruh lingkungan, termasuk merokok dan minuman beralkohol, serta faktor keturunan. “Hal utama terjadinya PTM pada remaja disebabkan pola hidup yang tidak sehat, di antaranya konsumsi makan makanan dengan gizi yang tidak seimbang, tidak beraktivitas fisik seperti olahraga, merokok, dan mengonsumsi minuman beralkohol,” ujar Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr. Eni Gustina, MPH. Menurut hasil survei Global School-based Student Health Survey (GSHS) atau survei kesehatan global berbasis sekolah pada tahun 2015, diketahui bahwa pola hidup remaja saat ini berisiko terhadap penyakit tidak menular. Adapun pola makan yang tidak sehat adalah di mana dalam satu hari remaja melakukan: mengonsumsi makanan siap saji (53%), kurang konsumsi sayur dan buah (78,4%), minuman bersoda (28%), kurang aktivitas fisik (67,9%), pernah merokok (22,5%), dan mengonsumsi alkohol (4,4%). Sementara berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes tahun 2013, menunjukkan sebanyak 26,1% remaja kurang melakukan aktivitas fisik. Sementara, sebanyak 93,5% penduduk usia 10 tahun ke atas kurang mengonsumsi sayur dan buah serta sekitar 36,3% penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas merokok. “Pola hidup tersebut berdampak pada kemungkinan timbulnya penyakit jantung, hipertensi, diabetes, dan stroke,” jelas Eni. Masih menurut Riskesdas 2013, diketahui bahwa 2,5% penduduk Indonesia sudah menderita stroke sejak usia 18-24 tahun. Selain itu beberapa penyakit tidak menular lainnya juga dijumpai pada anak usia sekolah dan remaja yakni, penyakit kanker sebanyak 0,6%, asma sebanyak 5%, dan obesitas atau kegemukan sebanyak 10%.

Gizi seimbang sejak dini, terutama sayur dan buah, kemudian juga membiasakan diri berolah raga. Eni juga mengingatkan kembali akan adanya program GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) yang salah satunya menyarankan tentang porsi makan ‘Isi Piringku’. ‘Isi Piringku’ tidak hanya untuk anak-anak, tapi juga untuk dewasa, tentu dengan tahapan porsi sesuai dengan usianya. “Jadi kalau dari sisi medis kan bisa menghitung kebutuhan kalori seseorang. Dari satu piring itu 1/3 karbohidratnya, 1/3 sayurnya, 1/3 lagi protein dan buah-buahan,” jelas Eni. Selain dari lingkungan keluarga, remaja juga harus mendapat intervensi dari lingkungan sekolah atau teman sebayanya. Karena remaja sebagian besar waktunya dihabiskan di institusi sekolah dan institusi pembinaan lain, maka sangat efektif apabila intervensi juga dilakukan di sana.

Beberapa program pemerintah untuk mewujudkan kesehatan remaja di sekolah, yaitu peningkatan pencegahan dan deteksi dini penyakit, peningkatan komunikasi informasi edukasi perilaku hidup bersih sehat melalui jam literasi dengan instrumen Buku Rapor Kesehatanku. Lainnya, pembiasaan konsumsi menu gizi seimbang melalui sarapan/kudapan bersama, peningkatan aktivitas fisik di sekolah melalui 4L (Lompat Lari, Loncat, dan Lempar) pada jam istirahat atau pada saat jam olah raga, dan penerapan kawasan tanpa rokok di sekolah.l Penulis: Faradina Ayu, Didit T. Kertapati Editor : Sopia Siregar terlalu banyak insulin dan tidak mampu meng-counter lagi untuk membersihkan akan terjadi resisten insulin. Nah, itu yang menyebabkan diabetes melitus tipe II yang sekarang banyak ditemukan pada anak remaja,” terang Eni. Oleh karena itu, menurut dia, harus dilakukan pencegahan agar remaja terhindar dari PTM. “Mengubah perilaku dengan pola hidup sehat adalah solusi agar remaja terhindar dari penyakit tidak menular,” tegas dia.

Pencegahan PTM Pola hidup sehat pada remaja untuk menghindari PTM harus dimulai dari lingkungan keluarga. Sebab, menurut Eni, orang tua seharusnya menjadi panutan anak-anaknya untuk hidup sehat. Misalnya dengan tidak merokok, menyiapkan makanan dengan gizi Prinsip-Prinsip Pencegahan PTM Meski memiliki dampak besar, 80% dari kasus PTM utama bisa dicegah. Pencegahan PTM utama bisa dilakukan dengan melakukan prinsip-prinsip pencegahan PTM, yakni:

  1. mengutamakan preventif, promotif melalui berbagai kegiatan edukasi dan promotif-preventif, dengan tidak mengesampingkan aspek kuratifrehabilitatif melalui peningkatan jangkauan dan kualitas pelayanan gizi dan kesehatan.
  2. melaksanakan pencegahan pada seluruh siklus hidup manusia, sejak dalam kandungan, hingga bayi, balita, anak sekolah, remaja, hingga dewasa dan orang tua. Ini diikuti perbaikan budaya hidup bersih dan sehat. Yang dimaksud seluruh siklus hidup adalah sejak hamil, lahir, anak sekolah, remaja, dewasa, usia lanjut sesuai dengan masalah pada kelompok usia tersebut. Pada kelompok usia 1.000 hari pertama, fokus pencegahan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar gizi dan kesehatan agar tidak terjadi gangguan pertumbuhan.
  3. menerapkan Pedoman Gizi Seimbang, yang difokuskan pada peningkatan konsumsi sayur dan buah, pangan hewani, dengan mengurangi lemak serta minyak dan membatasi gula dan garam.
  4. menggerakkan masyarakat untuk melakukan aktivitas fisik dan menimbang berat badan secara teratur. Kelima, melibatkan semua sektor, baik pemerintah maupun masyarakat, untuk secara nyata melakukan sinergi dalam melakukan pencegahan PTM.

source : Liputan Khusus 60 Mediakom I Edisi 96

Di wilayah Puskesmas Gamping 1 telah disosialisasi dan dibentuk juga Posbindu bagi Remaja di dusun. Hal ini terkait dengan deteksi dini PTM yang dapat dilakukan sendiri oleh teman-teman usia remaja tanpa harus menunggu ataupun merasakan keluhan. Karena PTM merupakan penyakit yang dapat ditunkan dari genetic dan juga dipengaruhi oleh pola hidup remaja masa kini yang sering kali mengabaikan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Tidak lupa juga selalu menyerukan tagline CERDIK (Cek kesehatan rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin melakukan aktivitas fisik, Diet seimbang, Istirahat cukup dan Kelola stress) saat melakukan kegiatan yang mengikutsertakan remaja. Ayo jangan ragu untuk cek kesehatan di Posbindu, tak perlu malu. Karena memeriksakan diri itu belum tentu karena sakit, tetapi lebih karena meminimalisirkan kesakitan. Salam sehat sahabat PUGASA! (promkesgamping1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *