Yuk, Cegah Stunting

 

 

 

 

 

 

Sumber foto: kemenkes RI

Kejadian balita stunting (pendek) merupakan masalah gizi utama yang dihadapi Indonesia. Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) selama tiga tahun terakhir, balita pendek memiliki prevalensi tertinggi dibandingkan dengan masalah gizi lainnya seperti gizi kurang, kurus, dan gemuk.

Apa itu stunting?

Stunting adalah kondisi dimana tinggi badan seorang anak lebih pendek dibandingkan tinggi badan anak seusianya. Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan kurangnya asupan gizi sejak dalam kandungan hingga masa anak berusia 2 tahun. Selain itu juga dapat disebabkan oleh infeksi berulang dan stimulasi psikososial yang tidak memadai.

Faktor lainnya pada ibu yang mempengaruhi stunting pada anak adalah postur tubuh ibu (pendek), jarak kehamilan yang terlalu dekat, ibu yang masih remaja, serta asupan nutrisi yang kurang pada saat kehamilan.

Stunting dapat ditentukan dengan menggunakan indikator antropometri tinggi badan terhadap umur (TB/U) apabila skor Z kurang dari -2 Standar Deviasi, anak masuk ke dalam kategori stunting. Perhitungan antropometri tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan aplikasi WHO Anthro.

3 hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting yaitu sebagai berikut :

  1. Pola Makan

Pola makan yang sesuai dengan pedoman gizi seimbang menjadi “wajib” dipraktikkan oleh setiap ibu hamil ataupun calon ibu, sehingga kebutuhan gizi untuk janin dapat terpenuhi. Selain itu, asupan nutrisi yang cukup pada 1000 hari pertama kehidupan dapat mencegah terjadinya stunting pada anak.

  1. Pola Asuh

Pola asuh yang kurang baik dalam pemberian makanan bagi bayi dan balita juga dapat mempengaruhi pertumbuhan balita. Pemberian edukasi tentang gizi pada bayi dan balita, penyuluhan PHBS, pola gizi bagi remaja, tidak merokok, tidak mengonsumsi narkoba, dan penyuluhan kesehatan reproduksi diharapkan dapat mendorong terjadinya perubahan pola asuh yang baik.

  1. Sanitasi dan Akses Air Bersih

Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi dan air bersih, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi karena penyakit infeksi yang disebabkan oleh hygiene sanitasi yang buruk dapat mengganggu penyerapan nutrisi pada proses pencernaan. Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan.

Stunting merupakan masalah yang harus diwaspadai, karena dapat mempengaruhi pertumbuhan anak hingga ia dewasa nanti. Dampak yang ditimbulkan oleh stunting tidak hanya secara fisik, namun juga memiliki dampak fungsional yang merugikan ketika ia tumbuh remaja hingga dewasa diantaranya kemampuan kognitif yang lemah, performa yang kurang optimal saat masa sekolah, produktivitas dan kapasitas kerja yang tidak optimal, risiko terserang penyakit infeksi lebih tinggi, serta peningkatan risiko penyakit kronis.

Oleh karena mari kita cegah stunting! dengan cara mencukupi kebutuhan gizi harian, memberikan pola asuh yang baik pada anak serta berperilaku hidup bersih dan sehat sehingga terhindar dari stunting.

 

Sumber :

Kementerian Kesehatan RI. Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia.Buletin Jendela.Semester I. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat, 2018.

www.depkes.go.id/cegah stunting dengan perbaikan pola makan pola asuh dan sanitasi

www.who.int/nutrition/healthygrowthproj

 

create by : Promkes Gamping 1

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *