Tuberkulosis adalah penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh mycobacterium, yang berkembang biak di dalam bagian tubuh dimana terdapat banyak aliran darah dan oksigen. Infeksi bakteri ini biasanya menyebar melewati pembuluh darah dan kelenjar getah bening, tetapi secara utama menyerang paru-paru. Bakteri TB membunuh jaringan dari organ yang terinfeksi dan membuatnya sebagai kondisi yang mengancam nyawa jika tidak dilakukan terapi.

Gejala utama penyakit ini adalah : Batuk dengan dahak kental dan keruh yang berlangsung lebih dari dua minggu, Dahak berdarah, Demam, Menggigil, Keringat malam, Kelelahan, Berat badan turun yang tidak dapat dijelaskan, Nyeri dada, Kelemahan, Sesak nafas

Tiga isu Nasional yang sedang giat digalakkan oleh pemerintah diantaranya percepatan eliminasi TBC, STUNTING dan peningkatan cakupan dan capaian imunisasi. Kementerian kesehatan menargetkan Indonesia berhasil mengeliminasi penyaki Tuberkulosis (TBC) pada tahun 2030 serta tidak ada kasus baru pada tahun 2050. Untuk itu skrining masal akan semakin giat dilakukan. Tantangan tersebut dikarenakan Indonesia adalah negara dengan beban TB tinggi dalam mengeliminasi TB karena banyak kasus yang belum terlapor dan terjangkau petugas kesehatan. Tercatat 365.000 kasus TB diobati tidak dilaporkan (36%) dan 290.000 kasus TB tidak terdeteksi dan tidak terjangkau (28%).  Kegiatan utama adalah menemukan penderita TB dan akan diobati sampai sembuh, serta sebagai laporan kasus untuk surveilans program.

Kegiatan pencegahan dan pengendalian TBC sesuai dengan Permenkes No. 67 tahun 2016 yaitu melalui Penemuan, kegiatan khusus dan Pengobatan. Penemuan dimaksutkan untuk memperbesar cakupan ditemukannya penderita TBC yang mungkin belum terjangkau fasilitas kesehatan. Kegiatan penemuan ini dibagi menjadi beberapa cara :

  1. Penemuan aktif : melalui pendekatan keluarga (PIS-PK), skrining di tempat khusus, pengendalian faktor resiko, promosi kesehatan dan transport sputum
  2. Penemuan pasif intensif : dengan melibatkan fasyankes pemerintah-swasta dan jejaring layanan serta pemeriksaan laboratorium terhadap suspek TB.
  3. Penemuan masif : melakukan skrining di tempat khusus (rutan, lapas, asrama, tempat kerja)
  4. Penemuan Intensif : managemen layanan TB terpadu (HIV, DM, rokok, penyakit paru, dll) serta pemeriksaan laboratorium.

Cara kedua yaitu dengan pengobatan. Pengobatan dilakukan dengan membagi tipe/kategori TB, menyiapkan paket obat intensif-lanjutan bagi penderita, pemantauan minum obat, penanganan efek samping dan evaluasi hasil pengobatan. Sedangkan kegiatan khusus yang dimaksud Permenkes no.67 tahun 2016 adalah

  1. pengobatan TB resistan obat jangka pendek,
  2. pengobatan profilaksis TB laten,
  3. imunisasi BCG,
  4. dukungan social dan pendampingan pasien penderita TB. Hal tersebut sangat mempengaruhi keberhasilan program eliminasi TB.

Dalam rangka gerakan eliminasi TB diperkenalkan gerakan TOSS TB yaitu Temukan Obati Sampai Sembuh guna mewujudkan Indonesia Bebas TB tahun 2050. Diharapkan gerakan ini dilakukan seara pro-aktif dan perluasan cakupan TOSS TB diharapkan akan dilaksanakan di seluruh Indonesia sebagai kegiatan yang massif. (promkesgamping1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *