LINDUNGI ANAK DARI TINDAK KEKERASAN!

“Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskiminasi” – Pasal 28b ayat 2 UUD 1945images

Belakangan ini, kita sering disuguhkan dengan banyaknya berita mengenai kekerasan dengan anak-anak sebagai korban. Dimulai dari pemukulan terhadap anak, penelantaran, pencabulan, hingga pembunuhan. Sedangkan pelaku kekerasan kebanyakan adalah orang-orang yang dikenal si anak, bahkan diantaranya adalah orang-orang yang seharusnya memberi perlindungan terhadap mereka. Tak pelak berita-berita tersebut membuat miris berbagai pihak yang membacanya, termasuk Saya*).

Kekerasan pada anak dapat memunculkan masalah fisik maupun psikologis pada si anak di kemudian hari. Secara fisik mungkin dapat dilihat dari sekujur tubuhnya yang menunjukkan tanda-tanda kekerasan. Sedangkan secara psikis, anak yang menjadi korban kekerasan dapat mengalami masalah kejiwaan, seperti gangguan stres pasca trauma, depresi, cemas, hingga psikotik.

Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk membantu anak-anak yang mengalami kekerasan, misalnya membantu anak untuk mengenali dan mengekspresikan emosinya. Dapat kita lakukan dengan berbicara pada anak tentang emosi yang dialaminya saat ini dan mengapa, atau mengajarkan kepada anak bagaimana mengatasi kemarahannya. Selain itu, kita dapat mengatakan pesan-pesan yang dapat menyemangati anak, misalnya “aku sayang kepada kamu”, “kamu anak yang kuat dan menyenangkan”, dll. Ajarkan juga pada anak untuk dapat menumbuhkan kembali rasa percaya kepada orang lain, serta membantu anak agar merasa dirinya lebih positif.

Beberapa upaya yang dapat kita lakukan untuk mencegah timbulnya tidak kekerasan pada anak, yaitu adanya pengawasan dari orangtua. Karena orangtua merupakan orang terdekat yang dapat melindungi dan memberikan kenyamanan pada anak. Orangtua dapat menjaga anak agar tidak menonton atau meniru adegan kekerasan yang dapat menimbulkan bahaya pada diri mereka ataupun orang lain. Bangunlah kedekatan pada anak, hal ini diharapkan dapat membuat anak dapat bercerita mengenai apapun pada orantua. Tanamkan sejak dini pendidikan agama pada anak, agar anak dapat belajar untuk bersikap sesuai dengan moral yang diajarkan. Ajarkan juga kepada anak untuk menyadari bagian tubuhnya yang pribadi dan mampu berkata TIDAK pada orang lain yang ingin menyentuh bagian tersebut. Selain itu, penting juga bagi orangtua agar bersikap lebih sabar dalam menghadapi anak-anaknya. Ingatlah bahwa anak masih perlu banyak belajar tentang kehidupan dan kita sebagai orangtua dituntut untuk dapat mengenalkan kehidupan yang sebaik-baiknya kepada anak.
Mari kita dukung dan bimbing anak kita untuk menjadi anak-anak dengan karakter yang kuat dan beriman!

 

*) Penulis adalah Psikolog di Puskesmas Gamping 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *