Waspada DBD disaat Pandemi Covid-19

Demam Berdarah Dengue atau yang biasa kita singkat dengan DBD kini angka kejadiannya semakin meningkat di Indonesia, terutama saat terjadinya pandemic virus Covid-19. Penyakit ini merupakan salah satu masalah Kesehatan berbasis vector di Indonesia dan dapat menyebabkan kematian. Penularan DBD pada umumnya melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti.

Masa inkubasi DBD biasanya 4-7 hari sesudah orang tersebut mengalami gigitan. Gejala yang ditimbulkan setelah masa inkubasi adalah :

  1. Bentuk abortif : atau enderita tidak mengalami gejala apapun
  2. Dengue klasik, penderita mengalami demam tinggi selama 4-7 hari, nyeri pada tulang diikuti munculkan bercak perdarahan dibawah kulit
  3. Dengue Haemorhagig Fever yang gejalanya sama dengan Dengue klasik tetapi ditambah dengan perdarahan dari hidung (mimisan), mulut dsb.

Biasanya nyamuk Aedes Agypti menggingit pada aktifitas puncaknya mulai pada pagi hari pukul 09.00-10.00 dan sore hari 16.00-17.00. tempat potensial penularan DBD diantaranya daerah endemis DBD, tempat-tempat umum dan pemukiman di pinggir kota.

Tempat perkembang biakan nyamuk DBD adalah dalam air yang bersih seperti bak mandi, ember, vas bunga, bawah dispenser, tampungan belakang kulkas, barang-barang bekas, serta potongan bamboo yang tidak ditutup pasir.

Pencegahan terhadap kejadian DBD di wilayah kita dalam pandemic virus Covid-19 diantaranya :

  1. Tingkatkan PSN PJB dirumah masing-masing dengan Gerakan 1 rumah 1 Jumantik
  2. Lakukan 3M Plus (Menguras tempat penampungan air, Menutup tempat yang potensial air bisa tergenang dan Mendaur ulang barang bekas plus mencegah gigitan dan perkembang biakan nyamuk)
  3. Jaga kondisi tubuh dengan mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang
  4. Jaga kebersihan lingkungan dan sanitasi di rumah masing-masing
  5. Gunakan lotion anti nyamuk jika bepergian/beristirahat.

edited by : Icha

This Post Has One Comment

  1. Winar

    Yup.. tetap waspada. DBD tetap merupakan masalah laten kesehatan tiap tahun, yang prosentase menyebabkan meninggal cukup tinggi. Tetap waspada DBD meski ada Covid 19..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *