Jajan, Antara Hobi dan Resiko

Yopi Wangania, seorang dosen Antropologi Universitas Indonesia (UI) pernah memberikan kuliah tentang kuliner pada penulis. Dosen berpenampilan nyentrik tersebut menjelaskan bahwa Kuliner berasal dari kata “ kulina “ ( kulino dalam bahasa jawa ) yang dapat diartikan sebagai kegiatan yang rutin dilakukan  sehari hari ( kulino ) oleh masyarakat Indonesia yaitu, masak memasak.

Kini seiring berjalannya waktu dunia kuliner menemukan masa kejayaannya baik dipandang dari sisi budaya, pariwisata, bisnis, bahkan dari segi ekonomi dan hobi. Begitu hebatnya dunia kuliner saat ini sehingga  delapan (8) Stasiun Televisi memberi ruang khusus tentang kuliner pada program acaranya dan ternyata rattingya cukup bagus , tengok saja acara Wisata kuliner yang dipandu Bondan Winarno dengan sapaan mak nyuss nya , Ruddy Choirudin dengan Foody nya atau acara kuliner ala Chef Farah Quinn yang sexy itu Hmm…mm …Yummy.. bikin gemes yang menyaksikannya.

Kiprah Pemerintah Daerah juga patut diapresiasi positif dalam berpartisipasi membesarkan dunia kuliner di wilayahnya, dengan kegiatan yang dikemas dalam berbagai pameran kuliner sampai lomba masak aneka ragam masakan tradisional. Semua usaha dan kegiatan itu patut didukung oleh berbagai pihak karena dapat melengkapi paket wisata yang muaranya akan menambah lapangan kerja baru serta pertumbuhan ekonomi .

Keunikan di balik kuliner

Pada masyarakat awam di Indonesia, kuliner baru sebatas diasumsikan pada kegiatan “Santap menyantap” / jajan berbagai makanan dan hidangan yang ujung ujungnya menjadi hobi dengan label “jajan”, padahal kuliner mempunyai arti yang luas  yaitu bagaimana rangkaian proses makanan dibuat dari bahan mentah hingga menjadi suatu hidangan siap santap di atas meja.

Mengamati proses pemilihan bahan makanan apa yang dipakai, alat masak spesifik apa yang digunakan, metode masak apa yang dipakai serta perlakuan khas yang dijalani merupakan nilai nilai kuliner yang asik untuk diamati. Tetapi okelah kita tidak usah menafikan begitu hebatnya fenomena jajan  pada masyarakat kita….yang penting roda ekonomi sektor informal khususnya jajanan tetap jalan. Ada suatu peluang kegiatan yang nampaknya belum tersentuh oleh dunia usaha kita, yaitu mengemas kegiatan wisata kuliner yang menarik.

Satu contoh misalnya :

Sebuah rumah makan menampilkan / mempertontonkan bagi pengunjungnya bagaimana suatu proses rangkaian kegiatan yang dilalui dari A sampai Z sehingga makanan itu tersaji. Kegiatan ini ini sangat menarik bagi pelanggan lintas etnis / daerah apalagi turis mancanegara.. Sebab mungkin mereka baru tahu / mendengar apa itu alat masak : Cobek, kukusan / soblok , parutan dll yang tentu saja di negara mereka tidak ada, belum lagi cara masak mengukus, mengungkep, memepes dll…begitu menariknya tata cara memasak ini konon pernah ada turis mancanegara yang daalam kebingungannya bertanya bagaimana proses memasukkan gula jawa dalam makanan Cemplon  atau Klepon, sebab begitu digigit mak “  crot  “ gula jawanya nyemprot dalam lidah menimbulkan rasa sensasi menarik…unik memang.

Kuliner identik dengan jajan ?

Jawaban pertanyaan di atas bisa ya bisa tidak , bagi mereka yang hobi makan / jajan tentu menjawab ya…Tetapi dibalik hobi ini ada hal yang harus diperhatikan agar semua sesuai dengan kaidah gizi dan kesehatan. Sehubungan dengan menjamurnya usaha kuliner terutama warung warung makan di pinggir jalan yang tumbuh subur bak cendawan di musim hujan harus menjadi perhatian tersendiri bagi pehobi jajanan. Kebersihan lingkungan,  keamanan pangan serta alat penyaji dan kesehatan penjaja adalah beberapa faktor yang harus diperhatikan.

Mengapa demikian ? kadang kala seseorang begitu nyaman nya menyantap hidangan warung pinggir jalan di tengah hiruk pikuk lalu lintas kendaraan bermotor yang mengeluarkan asap polusi dari knalpotnya., padahal residu dan partikel dari asap knalpot yang dikeluarkan kendaraan bermotor dapat hinggap pada hidangan / makanan pinggir jalan yang tentu saja tidak tertutup rapat. Akibatnya bisa ditebak…tubuh juga akan terkontaminasi zat racun tersebut.

Sebagai contoh : Salah satu zat racun yang dikeluarkan knalpot kendaraan bermotor yaitu timah hitam (Timbal) dengan rumus kimia Pb (Plumbum) jika melampaui ambang batas masuk dalam tubuh seseorang akan meracuni sel saraf pusat  (otak) sehingga seseorang menjadi pemarah , tidak dapat meredam emosi atau mengendalikan marahnya, fenomena itu dapat di amati pada lingkungan sekitar kita yang padat, ramai dan kacau…belum lagi ancaman penyakit lain yang ditimbulkan akibat sanitasi dan lingkungan yang buruk seperti tipes, diare dan penyakit infeksi menular lainnya. Masalah dan problem inilah yang perlu pemecahan dan bimbingan dari instansi terkait agar penjaja makanan atau usahawan sektor kuliner dapat menghasilkan makanan yang sehat, menjaga lingkungan yang bersih serta penjaja yang senantiasa sehat.

Ada baiknya mencontoh apa yang telah dilakukan pemda  kabupaten Sleman yang dengan serius menggarap sektor kuliner ini dengan menyediakan tempat / lokasi  usaha kuliner yaitu Taman kuliner di daerah kecamatan Depok.tetapi memang perlu ditingkatkan promosi dan sosialisasi tentang keberadaannya agar dapat lebih dikenal masyarakat luas…

Semoga saja semua  usaha itu  akan  bermuara pada tambah semaraknya dunia kuliner kita serta peningkatan ekonomi sehingga masyarakat yang ” Sembada ” segera terwujud…Bravo..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *