Women Sillent Killer

kanker lhKanker leher rahim atau disebut juga kanker serviks adalah penyebab kematian bagi wanita nomor empat terbanyak di dunia. Menurut badan kesehatan dunia, WHO sebanyak 90% penderitanya berasal dari negara berkategori ekonomi menengah kebawah (low-middles country), seperti Indonesia. “Setiap dua menit, satu perempuan meninggal karena kanker ini. Karena fakta inilah, saya tidak akan pernah bosan mengingatkan seluruh perempuan di Indonesia untuk melakukan skrining berkala atau papsmear,” ujar dokter spesialis obstetri dan ginekologi di RSAB Harapan Kita Jakarta dr. Kartika Hapsari, Sp.OG. Seperti diketahui secara ilmiah bahwa penyebab kanker leher rahim adalah virus HP (Human Papiloma) atau disebut HPV, khususnya HPV 16 dan HPV 18. Saat ini, satu satunya kanker yang mempunyai vaksin adalah kanker leher rahim dengan vaksin HPV. Yang perlu diingat, tidak semua penderita HPV pasti kena kanker leher rahim.  HPV dibagi menjadi dua jenis high risk dan low risk.

HPV high risk penyebab kanker leher Rahim sesungguhnya. Sedangkan tipe low risk biasanya menyebabkan penyakit menular seksual seperti condyloma atau kutil kelamin. Hanya sekitar 20% yang akan menetap dan menjadi lesi pra kanker (CIN 1, CIN2, dan CIN3). Apabila mempunyai CIN pun masih bisa diobati dan tidak berkembang menjadi kanker leher rahim. Cara pencegahannya pun simpel, yakni mendeteksi lesi pra kanker. Caranya tentu dengan papsmear atau LBC (Liquid Base Cytology). Sementara, cara Inspeksi Asam Asetat (IVA) tidak dapat digunakan mendeteksi lesi pra kanker. Tetapi terkadang ada pendapat yang salah apabila sudah melakukan vaksin HPV, seakan-akan kaum perempuan tidak perlu lagi melakukan skrining berkala atau papsmear. Vaksin HPV berguna untuk mencegah kita terkena kanker serviks. Tetapi itu tak bisa 100 % memastikan kita terhindar dari kanker leher rahim, karena itu papsmear tetap harus dilakukan secara berkala.

Dari hasil yang tidak 100% tadi, para peneliti di negara-negara maju mengembangkan tes HPV DNA. Gunanya, sebut Tika, untuk mengetahui apakah seseorang mempunyai virus penyebab kanker. Para peneliti pun menyarankan, setelah diketahui dalam tubuh ada HPV, maka papsmear dilakukan setahun sekali. Tetapi bila tidak ada virus, maka papsmear dapat dilakukan 3-5 tahun sekali. Apabila sudah terkkena HPV apakah bisa hilang? Jawabannya adalah bisa, karena hamper 80% HPV hilang dengan sendirinya, hanya 20 % HPV high risk akan berkembang menjadi pre kanker dan akhirnya kanker.

 Banyak pasien takut melakukan beragam tes kanker rahim. Alasannya bermacam macam. Namun, yang paling dominan akibat ketakutan jika mengetahui ada virus kanker dalam tubuhnya. Padahal bila diketahui secara dini menderita lesi pra kanker, maka angka kesembuhan mencapai 100 %. Tetapi, bila sudah kanker, angka kesembuhan tergantung dari stadiumnya, semakin tinggi stadium semakin rendah angka survivalnya. Negara maju pun mengantisipasi keengganan kaum Hawa untuk memeriksa diri sendiri. Para penelitinya membuat alat tes HPV yang dapat dilakukan oleh pasien sendiri. Sayangnya, alat ini belum tersedia di Indonesia. Perlu diketahui bahwa sensitivitas papsmear konvensional lebih rendah daripada tes HPV sendiri untuk mendeteksi lesi pra kanker serviks.Tes HPV mempunyai sensitifitas sampai 90 % lebih untuk mendeteksi lesi pra kanker. Vaksin HPV masuk dalam rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk anak berusia 10-18 tahun. Di negara lain, vaksin HPV diberikan pada usia 9-15 tahun, dan pada wanita berusia 16-26 tahun. Pemberiannya sebanyak tiga kali berupa suntikan. Risiko kanker serviks memang lebih besar terjadi pada individu yang sudah berhubungan seksual di bawah umur 18 tahun, berhubungan dengan banyak pasangan, dan banyak anak. Pemberian vaksin ini di usia menjelang remaja serta belum pernah terlibat aktivitas seksual bukan berarti melegalkan aktivitas seksual sebelum menikah. Hal ini mencegah terjadinya kanker serviks di kemudian hari pada semua kelompok perempuan, baik yang berisiko maupun tidak. Pemberiannya pada usia dini dibuktikan dengan efektivitas vaksin yang baik, untuk mencegah penyakit.

The Silent Killer  dikatakan demikian karena penyakit satu ini tidak mempunyai gejala khas yang menyertainya. Terkadang bila sudah tampak gejala maka pasien sudah dalam keadaan stadium lanjut. Itulah mengapa disebut pembunuh dalam senyap. Berbeda dengan kanker leher rahim yang sudah ditemukan apa penyebab dan cara skrining atau deteksi dini dengan papsmear. Kanker ovarium atau sel telur belum ditemukan cara tepat untuk melakukan deteksi dini. Kebanyakan dokter mendiagnosa gejala yang timbul tidaklah spesifik, perut yang membesar dan teraba benjolan, rasa begah atau penuh, terkadang nyeri bahkan sampai gangguan buang air besar atau kecil. Kanker tersebut diawali kista ovarium dengan berbagai macam jenis sesuai tipenya. Ada yang sifatnya jinak dan ada yang ganas (kanker). Maka, cara penanganannya pun sangat berbeda. Gejala terkadang tidak begitu jelas, bahkan ada yang tanpa gejala dan ditemukan secara tak sengaja saat dilakukan medical check up dengan USG.

Bila tampak jinak bila tanpa gejala atau ukurannya tak membesar, maka dapat dilakukan observasi berkala. Tetapi bila membesar dan menimbulkan keluhan, maka tatalaksananya adalah pengangkatan kista melalui operasi. Operasi bisa dilakukan dengan pembedahan minimal invasif atau laparoskopi (dengan sayatan kecil). Upaya laparotomi atau membuka perut (sayatan besar) juga bisa dilakukan. Maka dari itu masri rutinkan untuk melakukan medical chec up seetiap 6 bulan sekali bagi perempuan maupun laki-laki. Karena kanker bisa saja bersarang di tubuh kita tanpa kita sadari.

Pengaruh pola hidup juga sangat erat kaitannya dengan kanker, konsumsi makanan cepat saji, penggolahan makanan yang kurang  benar, kurang olahraga dan stress akan mempercepat pertumbuhan sel kanker di dalam tubuh. Mari lakukan GERMAS di kehidupan sehari-hari. Makan buah dan sayur setiap hari, lakukan olahraga minimal 30 menit setiap hari dan cek kesehatan berkala. (promkesgamping1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *